Selamat jalan sahabatku dr Zamrud Ramli Sp.An – Masih antara percaya dan ndak percaya, saat artikel ini saya tulis pada tanggal 4 Desember 2017. Tepat pada hari Jumat yang lalu (1 Desember 2017), disaat diri sedang bermain futsal bersama ayah-ayah di komplek PDA 4, istri yang saat itu ikut menemani bermain futsal, memberikan kabar pas saya beristirahat sejenak, bahwa Uud (panggilan kecil saya untuk bang Zamrud) masuk ICU di RS Dharmais. Informasi yang saya terima di grup whatsapp SMA 67, yang diinfokan oleh Bu Neni, yang juga satu almamater dengan almarhum, Uud terkena DBD. Namun yang menjadi pemikiran saya, kok DBD dirawatnya di RS Dharmais ya, Rumah Sakit yang terkenal dengan Rumah Sakit khusus Kanker. Singkat cerita, setelah saya merampungkan futsal, saya melakukan aktivitas biasa, mandi makan dan persiapan solat Jumat. Pada kesempatan setelah Jumatan, saya sempat mencoba menghubungi adik Uud yakni Nanda, adik yang paling kecil, namun nomernya sudah tidak aktif, dan Qodarullah saya tertidur.

Karena letih yang cukup terasa, saya kebangun sekitar jam 5 sore, karena belum solat ashar, buru-buru saya menunaikan solat ashar. Setelah itu, pikiran kembali melayang mengingat bang Uud, dan langsung saya buka grup SD, dimana sebelumnya saya masukan Bu Neni untuk memberikan informasi kepada teman-teman SD Angkasa X Halim PK, dan…. Kalimat Innalillahi wa innaillaihi rajiuun yang langsung terlihat oleh saya. Perasaan sedih dan lemas adalah yang terasa saat itu. Bang Uud, sudah dipanggil oleh Allah SWT. Bagi saya, ini seperti mimpi, karena saya sama sekali tidak tau kabar bahwa bang Uud sakit, termasuk sakit DBD yang diinformasikan. Tanpa pikir panjang, saya segera memesan ojek online, padahal disaat yang sama, bapak saya datang kerumah, saya minta izin untuk segera melayat bang Uud yang rumahnya disekitaran MM Bekasi.

Perjalanan kerumah bang Uud, sedikit tersendat, karena memang malam Sabtu kemarin adalah long weekend, alhasil sampai rumah bang Uud sampai jam 19.30. Sampai dirumah bang Uud, saya bergegas untuk masuk kedalam rumah, tepat didepan pintu rumah yang ramai lalu-lalang orang, saya berpapasan dengan ibunda bang Uud, saya memanggilnya tante Ramli, beliau agak kaget melihat saya yang memang sudah lama tidak pernah shilaturahim. Sekilas saya melihat mata tante Ramli yang sembab, sembari beliau berkata “Mas, maafin Zamrud ya, doain anak-anaknya menjadi anak yang sholihah”. Saya tidak bisa berkata-kata, bingung, seolah kehabisan kata untuk membalas kata-kata tante Ramli, dan saya hanya bisa mengangguk saja. Setelahnya beranjak saya masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka, setelah mengucapkan salam, saya menyalami Ayahanda bang Uud yang sedang menerima ucapan bela sungkawa dari handai taulan di ruang tamu. Beliau berkata “Terima kasih ya mas, maafin Zamrud”. Kembali saya tidak bisa membalas dengan kata-kata yang panjang, saya hanya berucap, “Iya om”. Setelah itu, om Ramli pun mempersilahkan saya untuk melihat Almarhum Zamrud yang berada di ruang tengah. Saya pun jumpa dengan adik-adik bang Uud, Intan dan Nanda, dan tak banyak kata yang keluar dari kita. Langsung mata ini menatap Almarhum bang Uud, dan selintas Istri dan anaknya yang berada di ruang tengah. Helaan nafas yang hanya diri ini mampu lakukan, menahan air mata sekuat mungkin untuk tidak menambah kesedihan keluarga, dan mendoakan “Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘aafihi wa’ fu’anhu“. Jujur saya adalah laki-laki cengeng yang tidak kuat menahan air mata, oleh karena itu, saya keluar, dan memilih duduk ditenda yang berada dijalanan depan rumah Almarhum.

Saya berjumpa dengan teman SD, yakni Agus Wira, dan melihat sosok Nanda adik bang Uud, lalu untuk menghapus rasa penasaran tentang apa sakit bang Uud, maka saya menanyakan kepada Nanda. Nanda menjelaskan bahwa 2 pekan yang lalu bang Uud memang terkena DBD, namun sudah enakkan, bahkan sudah masuk kerja kembali di Rumah Sakit Anna Bekasi. Namun tidak lama, kondisi bang Uud kembali drop, bahkan dicurigai ada sakit yang lebih serius. Oleh karena itu bang Uud dibawa ke Rumah Sakit Dharmais. Disana, setelah diobservasi, bang Uud dinyatakan sakit Kanker Darah yang cukup ganas. Dan setelah perjuangan yang cukup berat, akhirnya pada hari Jumat, 1 Desember 2017, Bang Uud berpulang keharibaan Allah SWT. Dan dimakamkan pada hari Sabtu di Sentul memorial Garden.

Sejenak, awang ini menjelajah menerobos waktu dimana masa kecil kami habiskan bersama. Ya, saya dan bang Uud adalah tetangga dan teman kecil di komplek Halim PK. Banyak sekali kesan, kenangan yang akan selalu terbayang, akan selalu teringat. Sosok bang Uud adalah sosok yang sama sekali tidak pernah menyakiti teman-temannya. Sosok yang sangat santun, sosok yang, ahh… sangat baik, teramat baik bahkan. Duhai sahabat, tenanglah engkau disisiNya, insyaaAllah kini kau telah bahagia menerima sebaik-baik nikmat, dan insyaaAllah kita akan berjumpa lagi di JannahNya yang terindah….

Foto kenangan dengan bang Uud :