Pentingnya Kaderisasi Dakwah Sekolah Dalam OrganisasiHallo sahabat sahurinur, pada kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang pentingnya kaderisasi dakwah sekolah dalam organisasi, baca terus ya. Berbicara akan hal ini, maka saya diingatkan tentang waktu yang lampau dimana saya masih menjadi siswa di salah satu SMA Negeri di Jakarta Timur. Disana saya bergabung dengan organisasi yang bernama Foris SMA 67 sebagai ekstra kurikuler yang saya pilih. Ternyata Allah memberikan saya banyak sekali ilmu didalamnya. Allah memberikan saya kesempatan untuk dapat mempelajari ilmu yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Pelajaran itu adalah bagaimana kita bisa mengatur sebuah organisasi yang didalamnya banyak sekali pemikiran dari masing masing anggota, lalu bagaimana kita bisa menentukan visi dan misi sehingga walaupun karakteristik yang berbeda-beda namun tetap berjalan menuju tujuan yang sama.

Nah, sekarang kita berbicara tentang kaderisasi, yang saya bisa memberikan penjelasan perihal kaderisasi, yakni sebuah proses pelimpahan tugas dari generasi sebelumnya ke generasi yang akan mengemban amanah, dengan proses adanya transfer ilmu yang jelas dan menyeluruh. Sehingga saat generasi baru mengemban amanah, maka mereka akan bisa menjalankan organisasi dengan baik, karena sudah faham dengan alur kerja disetiap divisi masing masing. Nah, dalam proses transfer knowladge itu, hal yang paling efektif adalah memberikan delegasi tugas kepada calon pengemban amanah sebelum proses kaderisasi dilaksanakan. Misal, saat ini pengurus Foris 67 dipegang oleh kelas 2 yang sebentar lagi naik menjadi kelas 3. Nah, anak anak kelas 1 diajarkan untuk mengurus organisasi dengan diberikan amanah untuk mengerjakan sebuah acara atau event tertentu. Pastinya hal ini didampingi oleh pengurus Foris kelas 2 yang sudah berpengalaman, sehingga adik adik kelas mengerti dan tidak takut dalam melangkah. Hal ini harusnya menjadi standarisasi dalam dakwah di sekolah.

Artikel lainnya : Foris SMA 67 Bangkitlah

Lalu bagaimana dengan dakwah sekolah dengan dakwah kampus? Ini pun harusnya menjadi perhatian bagi kakak-kakak pembina, dimana proses ini biasanya sangat rawan. Rawan dalam bidang apa? Rawan putusnya sebuah proses organisasi, karena saling tarik menarik antara dakwah kampus dan juga dakwah sekolah. Lalu hal yang perlu diambil sikap adalah tentang komunikasi yang harus terus dirajut oleh para aktivis dakwah kampus, agar mereka bisa membagi waktu dalam hal dakwah kampus dan juga dakwah di sekolah. Perlunya komunikasi ini, saya rasa tidak cukup chat di social media seperti whatsapp atau yang lainnya, namun perlu juga untuk dirajut rasa dalam pertemuan rutin yang disepakati dan telah ditetapkan perihal yang akan dibahas, sehingga waktupun akan menjadi efektif. Setelah itu lakukan pola PDCA, Plannung, Do, Control and Action.

Semoga tulisan ini bisa memberikan kita semangat untuk terus amanah dalam mengemban tugas-tugas yang diberikan kepada kita.

Sahuri Nur – Jatiasih